Kamis, 12 Juli 2012

BENTUK-BENTUK STRUKTUR SOSIAL




BAB I
PENDAHULUAN

1. 1. Pendahuluan
Manusia adalah makhluk sosial yang hidup dalam masyarakat. Manusia menjadi manusia karena dia tinggal dan hidup di dalam masyarakat. Sejak lahir sampai dengan kematiannya, dia tidak pernah hidup "sendiri" tetapi selalu berada dalam suatu lingkungan sosial yang berbeda-beda satu sama lainnya. Lingkungan sosial adalah suatu bagian dari suatu lingkungan hidup yang terdiri atas antar hubungan individu dan kelompok dan pola-pola organisasi serta segala aspek yang ada dalam masyarakat yang lebih luas di mana lingkungan sosial tersebut merupa- kan bagian daripadanya.
Lingkungan sosial tersebut dapat terwujud sebagai kesatuan- kesatuan sosial atau kelompok-kelompok sosial, tetapi dapat juga terwu- jud sebagai situasi-situasi sosial yang merupakan sebagian dari dan be- rada dalam ruang lingkup suatu kesatuan atau kelompok sosial. Kesatu- an-kesatuan sosial dan kelompok-kelompok sosial tersebut masing- masing mempunyai aturan-aturan yang berbeda satu dengan lainnya, di mana manusia yang terlibat atau berada di dalamnya harus mentaati aturan-aturan tersebut dalam berbagai hubungan-hubungan sosial yang dilakukannya menurut masing-masing kelompok dan kesatuan sosial.
Dalam setiap masyarakat, jumlah kelompok dan kesatuan sosial itu bukan hanya satu, sehingga seorang warga bisa termasuk dalam berbagai kelompok dan kesatuan sosial yang ada di masyarakat. Di satu pihak dia termasuk dalam suatu kesatuan sosial yang terorganisasi menurut aturan-aturan kekerabatan, seperti: keluarga, kelompok orang- orang yang seketurunan, atau kelompok orang-orang yang digolongkan sebagai sekerabat, dan sebagainya; dia juga bisa menjadi anggota atau warga organisasi yang ada dalam wilayah tempat tinggalnya, seperti: RT, RW, Paguyuban Pemuda Kampung atau desa, dan sebagainya; dia juga bisa menjadi anggota dari berbagai perkumpulan dan organisasi di tempat kerjanya; ataupun menjadi anggota berbagai perkumpulan yang dimasukinya karena dia merasa sebagai satu golongan dengan perkum- pulan tersebut (yang terwujud berdasarkan atas persamaan umur, jenis kelamin, perhatian ekonomi, perhatian dan ide politik, asal suku bangsa, dan daerah yang sama, dan sebagainya), dan juga karena persamaan kesenangan atau hobi dengan sejumlah orang lainnya. 

1. 2. Latar Belakang

Dalam kehidupan hususnya bermasyarakat/sosial, untuk mencapai kehidupan yang makmur, damai, dan sejahtera, maka kita perlu mengetahui dan mempelajari ilmu-ilmu sosial, dalam hal ini yaitu struktur sosial. Struktur sosial adalah tatanan atau susunan sosial yang membentuk kelompok-kelompok sosial dalam masyarakat. Di dalamnya ini terdapat fungsi, ciri – ciri, system, dan jenis – jenisnya yang tergolong baik maupun tidak baik. Semua itu harus dipelajari agar kita memahami bagaimana sebenarnya bantuk – bentuk masyarakat yang baik maupun yang tidak baik. Yang baik kita teladani dan yang buruk kita tinggal dan hanya untuk dijadikan pemahaman saja agar tidak terjerumus kedalamnya.


BAB II
PEMBAHASAN
2. 1. Masyarakat
Istilah atau kata masyarakat sering muncul dalam berbagai media dan dipergunakan orang dengan berbagai keperluan dan maksud serta makna. Coba kalau kita perhatikan media cetak atau elektronik seperti acara televisi, maka akan ditemukan banyak sekali maksud dan keperluan serta makna dari kata masyarakat yang dipergunakan oleh pelaku media.
Penggunaan kata masyarakat seringkali tercampuradukkan dalam kehidupan sehari-hari. Disatu waktu kata “masyarakat” dipergunakan sesuai dengan makna kata “masyarakat” itu sendiri. Tetapi, terkadang kata masyarakat dipergunakan untuk makna yang bukan sebenarnya, seperti kata “rakyat”. Bahkan makna masyarakat tersebut sering dicampuradukan dengan istilah “komunitas”.
Kata masyarakat dalam bahasa Inggrisnyasociety, sedangkan kata komunitas dalam bahasa Inggrisnyacommunity. Dua istilah (konsep) tersebut sering ditafsirkan secara sama, padahal sangat berbeda artinya. Society atau masyarakat berbeda dengan komunitas (community) atau masyarakat setempat. Terdapat perbedaan mendasar antara kedua konsep tersebut.  Krech, seperti yang dikutip Nursid (2000), mengemukakan bahwa  masyarakat adalah “is that it is an organized collectivity of interacting people  whose activities become centered arounds a set of common goals, and who tend  to share common beliefs, attitudes, and modes of action. Jadi ciri atau unsur  masyarakat adalah kumpulan orang; sudah terbentuk lama; sudah memiliki sistem sosial atau struktur sosial tersendiri; dan memiliki kepercayaan, sikap, dan perilaku yang dimiliki bersama.  Fairchild et al (dalam Nursid, 2000) memberikan batasan masyarakat  sebagai: “a group human beings cooperating in the pursuit of several of their  major interest, invariably including self maintenance and self-perpetuation. The concept of society includes continuity, complex associational relationships, and a composition including representatives of fundamental human types, specifically men, women, and children”.
Berdasarkan pengertian ini, maka yang menjadi unsur dari masyarakat adalah kelompok manusia; adanya keterpaduan atau kesatuan diri berlandaskan kepentingan utama; Adanya pertahanan dan kekekalan diri; adanya kesinam- bungan; dan adanya hubungan yang pelik diantara anggotanya.  Sedangkan Horton (1993) sebagai “a relatively independents, self-  perpetuating human group who accupy territory, share a culture, and have most  of their associations within this group”. Adapun ciri-ciri masyarakat adalah  kelompok manusia; memiliki kebebasan dan bersifat kekal; menempati suatu kawasan; memiliki kebudayan; dan memiliki hubungan dalam kelompok yang bersangkutan.
Dengan demikian, karakteristik dari masyarakat itu terutama terletak pada kelompok manusia yang bebas dan bersifat kekal, menempati kawasan tertentu, memiliki kebudayaan serta terjalin dalam suatu hubungan di antara anggota-anggotanya.
237  atau tidak memiliki sesuatu yang berharga dalam pandangan masyarakat mempunyai kedudukan yang rendah. Diantara lapisan atasan dan yang rendah itu, ada lapisan yang jumlahnya dapat ditentukan sendiri oleh mereka yang hendak mempelajari sistem lapisan masyarakat. Biasanya golongan yang berada dalam lapisan atasan tidak hanya memiliki satu macam saja dari apa yang dihargai masyarakat, tetapi kedudukannya yang tinggi itu bersifat kumulatif. Mereka yang memiliki uang banyak, akan mudah sekali mendapatkan tanah, kekuasaan dan mungkin juga kehormatan, sedang mereka yang mempunyai kekuasaan besar, mudah menjadi kaya dan mengusahakan ilmu pengetahuan.
Sistem lapisan dalam masyarakat tersebut, dalam sosiologi di- kenal dengan social stratification. Katastratification berasal dari stratum (jamaknya: strata yang berarti lapisan). Sorokin menyatakan bahwa social stratification adalah pembedaan penduduk atau masyarakat ke dalam kelas-kelas tinggi dan kelas yang lebih rendah.
Bentuk-bentuk lapisan masyarakat berbeda-beda dan banyak sekali. Lapisan-lapisan tersebut tetap ada, sekalipun dalam masyarakat kapitalis, demokratis, komunistis, dan lain sebagainya. Lapisan masyara- kat tadi, mulai ada sejak manusia mengenal adanya kehidupan bersama di dalam suatu organisasi sosial. Misalnya pada masyarakat-masyarakat yang bertaraf kebudayaan masih pada masyarakat-masyarakat yang bersahaja. Lapisan masyarakat mula-mula didasarkan pada perbedaan seks, perbedaan antara pemimpin dengan yang dipimpin, golongan buangan/budak, pembagian kerja dan bahkan juga sesuatu pembedaan berdasarkan kekayaan. Semakin rumit dan semakin maju perkembangan teknologi masyarakat, pembedaan dilakukan berdasarkan kekayaan. Semakin rumit dan semakin maju teknologi sesuatu masyarakat, semakin kompleks pula sistem lapisan masyarakat (Inkeles, 1965).
Pada masyarakat-masyarakat kecil serta bersahaja, biasanya pembedaan kedudukan dan peranan bersifat minim, karena warganya sedikit sekali dan orang-orang yang dianggap tinggi kedudukannya juga tidak banyak baik macam maupun jumlahnya. Di dalam masyarakat yang sudah kompleks pembedaan kedudukan dan peranan juga bersifat kom- pleks karena banyaknya orang dan aneka warna ukuran yang dapat diterapkan terhadapnya.
Lapisan masyarakat tersebut tidak hanya dapat dijumpai pada masyarakat manusia, tetapi juga pada kehidupan hewan dan tumbuh- tumbuhan. Ada golongan hewan merayap, menyusui dan lain-lainnya. Bahkan di kalangan hewan menyusui, umpamanya kera, ada lapisan pimpinan dan yang dipimpin, ada pula perbedaan pekerjaan yang dida- sarkan pada pembedaan seks dan seterusnya. Demikian juga di kalang- an dunia tumbuh-tumbuhan dikenal adanya tumbuh-tumbuhan parasitis, yang sanggup berdiri sendiri dan lain sebagainya. Akan tetapi kajian ini dibatasi pada lapisan masyarakat manusia.  Bentuk-bentuk kongkrit lapisan masyarakat tersebut banyak. Akan  tetapi secara prinsipal bentuk-bentuk tersebut dapat diklasifikasikan ke  238  dalam tiga macam prinsipil bentuk-bentuk tersebut dapat diklasifikasikan ke dalam tiga macam kelas, yaitu yang ekonomis, politis dan yang didasarkan pada jabatan-jabatan tertentu dalam masyarakat. Umumnya, ketiga bentuk pokok tadi mempunyai hubungan yang erat satu dengan lainnya, dimana terjadi saling mempengaruhi. Misalnya, mereka yang termasuk kedalam suatu lapisan atas dasar ukuran politis, biasanya juga merupakan orang-orang yang menduduki suatu lapisan tertentu atas dasar ekonomis. Demikian pula mereka yang kaya, biasanya menempati jabatan-jabatan yang senantiasa penting. Akan tetapi, tidak semua demikian, tergantung pada sistem nilai yang berlaku serta berkembang dalam masyarakat bersangkutan.
Sistem lapisan dalam proses pertumbuhan masyarakat terjadi dengan sendirinya, tetapi ada pula yang dengan sengaja disusun untuk mengejar suatu tujuan bersama. Alasan terbentuknya lapisan masyarakat yang terjadi dengan sendirinya adalah kepandaian, tingkat umur (yang senior), sifat keaslian keanggotaan kerabat seorang kepala masyarakat, dan mungkin juga harta dalam batas-batas tertentu. Alasan-alasan yang dipakai berlainan bagi tiap-tiap masyarakat.
Pada masyarakat yang hidupnya dari berburu hewan alasan utama adalah kepandaian berburu. Sedangkan pada masyarakat yang telah menetap dan bercocok tanam, maka kerabat pembuka tanah (yang dianggap asli) dianggap sebagai orang-orang yang menduduki lapisan tinggi. Hal ini dapat dilihat misalnya pada masyarakat Batak, dimana marga tanah, yaitu marga yang pertama-tama membuka tanah, dianggap mempunyai kedudukan yang tinggi. Demikian pula golongan pembuka tanah di kalangan orang jawa di desa, dianggap mempunyai kedudukan tinggi, karena mereka sebagai pembuka tanah dan pendiri desa. Masya- rakat lain menganggap bahwa kerabat kepala desalah yang mempunyai kedudukan tinggi dalam masyarakat, misalnya pada masyarakat Ngaju di Kalimantan Selatan.
Secara teoritis, semua manusia dapat dianggap sederajat, tetapi sesuai dengan kenyataan hidup kelompok-kelompok sosial, tidaklah de- mikian. Pembedaan atas lapisan merupakan gejala universal yang meru- pakan bagian sistem sosial masyarakat. Untuk meneliti terjadinya proses lapisan masyarakat, dapat dikaji berdasarkan hal-hal sebagai berikut.
1)      Sistem lapisan berpokok pada sistem pertentangan dalam masyara- kat. Sistem demikian hanya mempunyai arti khusus bagi masyara- kat tertentu yang menjadi obyek penyelidikan.
2)      Sistem lapisan dapat dianalisis dalam ruang lingkup unsur-unsur sebagai berikut:
a)      distribusi hak-hak istimewa yang obyektif seperti misalnya penghasilan, kekayaan, keselamatan (kesehatan, laju angka ke- jahatan), wewenang dan sebagainya.
b)      sistem pertanggaan yang diciptakan pada warga masyarakat (prestise dan penghargaan) kriteria sistem pertentangan, yaitu apakah didapat berdasarkan kualitas pribadi, keanggotaan kelompok kerabat tertentu, milik, wewenang atau kekuasaan.
c)       lambang-lambang kedudukan, seperti tingkah laku hidup, cara berpakaian, perumahan, keanggotaan pada suatu organisasi dan selanjutnya.
d)      mudah atau sukarnya bertukar kedudukan.
e)       solidaritas diantara individu atau kelompok yang menduduki kedudukan yang sama dalam sistem sosial masyarakat; (1) pola-interaksi (struktur klik, keanggotaan organisasi, perkawinan dan sebagainya); (2) kesamaan atau ketidaksamaan sistem ke- percayaan, sikap dan nilai-nilai; (3) kesadaran akan kedudukan masing-masing; (4) dan aktivitas sebagai organ kolektif.
2. 1. 1. Sifat-Sifat Lapisan Masyarakat
Sifat lapisan didalam suatu masyarakat dapat bersifat tertutup (closed social stratification) dan (open social stratification). Bersifat ter- tutup bilamana membatasi kemungkinan pindahnya seseorang dari satu lapisan ke lapisan yang lain. Baik yang merupakan gerak ke atas atau ke bawah. Di dalam sistem yang demikian, satu-satunya jalan untuk menjadi anggota suatu lapisan dalam masyarakat adalah kelahiran. Sebaliknya di dalam sistem terbuka, setiap anggota masyarakat mempunyai kesempat- an untuk berusaha dengan kecakapan sendiri untuk naik lapisan, atau bagi mereka yang tidak beruntung, untuk jatuh dari lapisan yang atas ke lapisan di bawahnya. Pada umumnya sistem terbuka ini memberi perang- sang yang lebih besar kepada setiap anggota masyarakat untuk dijadikan landasan pembangunan masyarakat dari sistem yang tertutup. Sistem tertutup jelas terlihat pada masyarakat India yang perkasa atau di dalam masyarakat yang feodal, atau masyarakat di mana lapisannya tergantung pada perbedaan-perbedaan rasial.
Sistem lapisan masyarakat yang tertutup, dalam batas-batas ter- tentu, juga dijumpai pada masyarakat Bali. Menurut kitab-kitab suci orang Bali, masyarakat terbagi dalam empat lapisan, yaitu Brahmana, Ksatria, Waisya, dan Sudra. Ketiga lapisan pertama biasa disebuttriwangsa sedangkan lapisan terakhir disebutjaba yang merupakan lapisan dengan jumlah warga terbanyak. Keempat lapisan tersebut terbagi lagi dalam lapisan-lapisan khusus. Biasanya orang-orang mengetahui dari gelar se- seorang, ke dalam kasta mana dia tergolong, gelar-gelar tersebut terbagi lagi dalam lapisan-lapisan khusus. Biasanya orang-orang mengetahui gelar seseorang, ke dalam kasta mana dia tergolong, gelar-gelar tersebut diwariskan menurut keturunan laki-laki yang sepihakpatrilineal adalah Ida Bagus, Tjokorda, Dewa, Ngahan, Bagus, I Gusti, Gusti. Gelar pertama adalah gelar Brahmana, gelar kedua sampai keempat bagi orang Ksatria, sedangkan yang kelima dan keenam berlaku bagi orang Waisya. Orang Sudra juga memakai gelar seperti Pande, Kbon, Pasek dan selanjutnya.
Dahulu kala gelar tersebut berhubungan erat dengan pekerjaan orang-orang yang bersangkutan. Walaupun gelar tersebut tidak memi- sahkan golongan-golongan secara ketat, tetapi sangat penting bagi sopan santun pergaulan. Disamping itu hukum adat juga menetapkan hak-hak bagi si pemakai gelar, misalnya, dalam memakai tanda-tanda, perhiasan-perhiasan, pakaian tertentu dan lain-lain. Kehidupan sistem kasta di Bali umumnya terlihat jelas dalam hubungan perkawinan. Seseorang gadis suatu kasta tertentu, umumnya dilarang bersuamikan seseorang dari kasta yang lebih rendah.
2. 1. 2. Kelas-Kelas dalam Masyarajat (Social Classes)
Di dalam uraian tentang teori lapisan senantiasa dijumpai istilah kelas (social class). Seperti yang sering terjadi dengan beberapa istilah lain dalam sosiologi, maka istilah kelas, juga tidak selalu mempunyai arti yang sama. Walaupun pada hakikatnya menunjukkan sistem kedudukan yang pokok dalam masyarakat. Penjumlahan kelas-kelas dalam masyara- kat disebut class system (Freedman, 1952). Artinya, semua orang dan keluarga yang sadar akan kedudukan mereka itu diketahui dan diakui oleh masyarakat umum. Dengan demikian, maka pengertian kelas adalah paralel dengan pengertian lapisan tanpa membedakan apakah dasar lapisan itu faktor uang, tanah kekuasaan atau dasar lainnya.
Adapula yang menggunakan istilah kelas hanya untuk lapisan berdasarkan atas unsur ekonomis. Sedangkan lapisan yang berdasarkan atas kehormatan dinamakan kelompok kedudukan (status group). Selan- jutnya dikatakan bahwa harus diadakan pembedaan yang tegas antara kelas dan kelompok kedudukan.
Max Weber mengadakan pembedaan antara dasar ekonomis dengan dasar kedudukan sosial akan tetapi tetap mempergunakan istilah kelas bagi semua lapisan. Adanya kelas yang bersifat ekonomis dibagi- nya lagi ke dalam sub-kelas yang bergerak dalam bidang ekonomi berdasarkan kecakapannya. Di samping itu, Max Weber masih menye- butkan adanya golongan yang mendapatkan kehormatan khusus dari masyarakat dan dinamakanstand (dalam Soekanto, 1990).
Joseph Schumpeter (dalam Horton, 1993) mengatakan bahwa terbentuknya kelas-kelas dalam masyarakat adalah karena diperlukan untuk menyesuaikan masyarakat dengan keperluan-keperluan yang nyata. Makna kelas dan gejala-gejala kemasyarakatan lainnya hanya dapat dimengerti dengan benar apabila diketahui riwayat terjadinya.
Pada beberapa masyaakat di dunia, terdapat kelas-kelas yang tegas sekali. Karena orang-orang dari kelas tersebut memperoleh sejum- lah hak dan kewajiban yang dilindungi oleh hukum positif masyarakat yang bersangkutan. Warga masyarakat semacam itu seringkali mem- punyai kesadaran dan konsepsi yang jelas tentang seluruh susunan lapisan dalam masyarakat. Misalnya Inggris, ada istilah-istilah tertentu seperticommoners bagi orang biasa sertanobility bagi bangsawan.  Sebagian besar warga masyarakat Inggris menyadari bahwa orang-orang  nobility berada di atas commoners (sesuai dengan adat istiadat).
Apabila pengertian kelas ditinjau secara lebih mendalam, maka akan dapat dijumpai beberapa kriteria yang tradisional, yaitu: (1) besar jumlah anggota-anggotanya; (2) kebudayaan yang sama, yang menentu- kan hak-hak dan kewajiban-kewajiban warganya; (3) kelanggengan; (4) tanda/lambang-lambang yang merupakan ciri khas; (5) batas-batas yang tegas (bagi kelompok itu, terhadap kelompok lain); dan (6) antagonisme.
Sehubungan dengan kriteria tersebut di atas, kelas memberikan fasilitas-fasilitas hidup tertentu (life chances) bagi anggotanya. Misalnya, keselamatan atas hidup dan harta benda, kebebasan, standar hidup yang tinggi dan sebagainya, yang dalam arti-arti tertentu tidak dipunyai oleh para warga kelas-kelas lainnya. Kecuali itu, kelas juga mempengaruhi gaya dan tingkah laku hidup warganya (life style). Karena kelas-kelas yang ada dalam masyarakat mempunyai perbedaan dalam kesempatan memperoleh pendidikan atau rekreasi. Misalnya, ada perbedaan dalam apa yang telah dipelajari warga negara, perilaku, dan sebagainya.
2. 1. 3. Dasar Lapisan Masyarakat
Ukuran atau kriteria yang biasa dipakai untuk menggolong- golongkan anggota-anggota masyarakat ke dalam suatu lapisan adalah sebagai berikut.
1)      Kekayaan; Barangsiapa yang memiliki kekayaan paling banyak, termasuk dalam lapisan teratas. Kekayaan tersebut, misalnya, dapat dilihat pada bentuk rumah yang bersangkutan, mobil priba- dinya, cara-caranya mempergunakan pakaian serta bahan pakai- an yang dipakainya, kebiasaan untuk berbelanja barang-barang mahal dan seterusnya.
2)      Kekuasaan; Barangsiapa yang memiliki kekuasaan atau yang mempunyai wewenang terbesar, menempati lapisan atasan.
3)      Kehormatan; Ukuran kehormatan tersebut mungkin terlepas dari ukuran-ukuran kekayaan dan/atau keuasaan. Orang yang paling disegani dan dihormati, mendapat tempat yang teratas. Ukuran semcam ini, banyak dijumpai pada masyarakat tradisional, biasanya mereka adalah golongan tua atau yang pernah berjasa.
4)      Penguasaan ilmu pengetahuan; Ilmu pengetahuan sebagai ukur- an, dipakai oleh masyarakat yang menghargai ilmu pengetahuan. Akan tetapi ukuran tersebut kadang-kadang menyebabkan terjadi- nya akibat-akibat yang negatif. Karena ternyata bahwa bukan mutu ilmu pengetahuan yang dijadikan ukuran, ternyata gelar kesarjanaannya. Sudah tentu hal yang demikian memacu segala macam usaha untuk mendapat gelar, walau tidak halal. Kriteria di atas tidaklah bersifat limiatif (kaku, terbatas), karena  masih ada kriteria lain yang dapat digunakan. Akan tetapi kriteria di atas amat menentukan sebagai dasar timbulnya sistem lapisan dalam masya- rakat. Pada beberapa masyarakat tradisional di Indonesia, golongan pembuka tanahlah yang dianggap menduduki lapisan tertinggi. Misalnya di Jawa, kerabat dan keturunan pembuka tanahlah yang dinggap masya- rakat desa sebagai kelas tertinggi. Kemudian menyusul para pemilik tanah yang dianggap masyarakat desa sebagai kelas tertinggi. Kemudian menyusul para pemilik tanah, walaupun mereka bukan keturunan pembuka tanah, mereka disebut pribumi, sikep atau kuli kenceng. Lalu menyusul mereka yang hanya mempunyai pekarangan atau rumah saja (golongan ini disebut kuli gundul, lindung), dan akhirnya mereka yang hanya menumpang saja pada tanah milik orang lain (Soepomo, 1966).
2. 1. 4.  Unsur-Unsur Lapisan Masyarakat
Unsur yang melandasi sistem lapisan masyarakat adalah kedudukan (status) dan peranan (role). Kedudukan dan peranan merupakan unsur-unsur baku dalam sistem lapisan, dan mempunyai arti yang penting bagi sistem sosial. Sistem sosial adalah pola-pola yang mengatur hubungan timbal balik antar individu dalam masyarakat dan antara individu dengan masyarakatnya, dan tingkah laku individu-individu tersebut (Linton, 1996). Dalam hubungan-hubungan timbal balik tersebut, kedudukan dan peranan individu mempunyai arti yang penting. Karena langgengnya masyarakat tergantung pada keseimbangan kepentingan- kepentingan individu termaksud.
a.     Kedudukan (Status)
Pengertian kedudukan (status) kadang dibedakan dengan kedu- dukan sosial (social status). Kedudukan diartikan sebagai tempat atau posisi seseorang dalam suatu kelompok sosial. Kedudukan sosial artinya tempat seseorang secara umum dalam masyarakat sehubungan dengan orang-orang lain, dalam arti lingkungan pergaulannya, prestisenya dan hak-hak serta kewajiban-kewajibannya. Untuk lebih mudah mendapatkan pengertian, kedua istilah tersebut di atas akan dipergunakan dalam arti yang sama dan digambarkan dengan istilah kedudukan (status).
Secara abstrak, kedudukan berarti tempat seseorang dalam suatu pola tertentu. Dengan demikian, seseorang dikatakan mempunyai bebe- rapa kedudukan, oleh karena seseorang biasanya ikut serta dalam berbagai pola kehidupan. Pengertian tersebut menunjukkan tempatnya sehubungan dengan kerangka masyarakat secara menyeluruh. Keduduk- an Tuan A sebagai warga masyarakat, merupakan kombinasi dari sege- nap kedudukannya sebagai guru, kepala sekolah, ketua rukun tetangga, suami nyonya B, ayah anak-anak dan seterusnya.
Apabila dipisahkan dari individu yang memilikinya, kedudukan hanya merupakan kumpulan hak-hak dan kewajiban. Karena hak dan kewajiban termaksud hanya dapat terlaksana melalui perantaraan indivi- du, maka agak sukar untuk memisahkannya secara tegas dan kaku.

2. 2 Struktur Sosial
2. 2. 1.  Pengertian Struktur Sosial
Secara harfiah, struktur bisa diartikan sebagai susunan atau bentuk. Struktur tidak harus dalam bentuk fisik, ada pula struktur yang berkaitan dengan sosial. Menurut ilmu sosiologi, struktur sosial adalah tatanan atau susunan sosial yang membentuk kelompok-kelompok sosial dalam masyarakat. Susunannya bisa vertikal atau horizontal.
Para ahli sosiologi merumuskan definisi struktur sosial sebagai berikut:
v     George Simmel: struktur sosial adalah kumpulan individu serta pola perilakunya.
v     George C. Homans: struktur sosial merupakan hal yang memiliki hubungan erat dengan perilaku sosial dasar dalam kehidupan sehari-hari.
v     William Kornblum: struktur sosial adalah susunan yang dapat terjadi karena adanya pengulangan pola perilaku undividu.
v     Soerjono Soekanto: struktur sosial adalah hubungan timbal balik antara posisi-posisi dan peranan-peranan sosial.
2. 2. 2. Ciri-ciri Struktur Sosial
1. Muncul pada kelompok masyarakat
Struktur sosial hanya bisa muncul pada individu-individu yang memiliki status dan peran. Status dan peranan masing-masing individu hanya bisa terbaca ketika mereka berada dalam suatu sebuah kelompok atau masyarakat.
Pada setiap sistem sosial terdapat macam-macam status dan peran indvidu. Status yang berbeda-beda itu merupakan pencerminan hak dan kewajiban yang berbeda pula.
2. Berkaitan erat dengan kebudayaan
Kelompok masyarakat lama kelamaan akan membentuk suatu kebudayaan. Setiap kebudayaan memiliki struktur sosialnya sendiri. Indonesia mempunyai banyak daerah dengan kebudayaan yang beraneka ragam. Hal ini menyebabkan beraneka ragam struktur sosial yang tumbuh dan berkembang di Indonesia.
Hal-hal yang memengaruhi struktur sosial masyarakat Indonesia adalah sbb:
a. Keadaan geografis
Kondisi geografis terdiri dari pulau-pulau yang terpisah. Masyarakatnya kemudian mengembangkan bahasa, perilaku, dan ikatan-ikatan kebudayaan yang berbeda satu sama lain.
b. Mata pencaharian
Masyarakat Indonesia memiliki mata pencaharian yang beragam, antara lain sebagai petani, nelayan, ataupun sektor industri.
c. Pembangunan
Pembangunan dapat memengaruhi struktur sosial masyarakat Indonesia. Misalnya pembangunan yang tidak merata antra daerah dapat menciptakan kelompok masyarakat kaya dan miskin.
3. Dapat berubah dan berkembang
Masyarakat tidak statis karena terdiri dari kumpulan individu. Mereka bisa berubah dan berkembang sesuai dengan tuntutan zaman. Karenanya, struktur yang dibentuk oleh mereka pun bisa berubah sesuai dengan perkembangan zaman.
2. 2. 3. Fungsi Struktur Sosial
1. Fungsi Identitas
Struktur sosial berfungsi sebagai penegas identitas yang dimiliki oleh sebuah kelompok. Kelompok yang anggotanya memiliki kesamaan dalam latar belakang ras, sosial, dan budaya akan mengembangkan struktur sosialnya sendiri sebagai pembeda dari kelompok lainnya.
2.   Fungsi Kontrol
Dalam kehidupan bermasyarakat, selalu muncul kecenderungan dalam diri individu untuk melanggar norma, nilai, atau peraturan lain yang berlaku dalam masyarakat. Bila individu tadi mengingat peranan dan status yang dimilikinya dalam struktur sosial, kemungkinan individu tersebut akan mengurungkan niatnya melanggar aturan. Pelanggaran aturan akan berpotensi menibulkan konsekuensi yang pahit.
3. Fungsi Pembelajaran
Individu belajar dari struktur sosial yang ada dalam masyarakatnya. Hal ini dimungkinkan mengingat masyarakat merupakan salah satu tempat berinteraksi. Banyak hal yang bisa dipelajari dari sebuah struktur sosial masyarakat, mulai dari sikap, kebiasaan, kepercayaan dan kedisplinan.
2. 2. 4. Bentuk Struktur Sosial
Bentuk struktur sosial terdiri dari stratifikasi sosial dan diferensiasi sosial. Masing-masing punya ciri tersendiri.
1. Stratifikasi Sosial
Stratifikasi berasal dari kata strata atau tingkatan. Stratifikasi sosial adalah struktur dalam masyarakat yang membagi masyarakat ke dalam tingkatan-tingkatan.
Ukuran yang dipakai bisa kekayaan, pendidikan, keturunan, atau kekuasaan. Max Weber menyebutkan bahwa kekuasaan, hak istimewa dan prestiselah yang menjadi dasar terciptanya stratifikasi sosial.
Adanya perbedaan dalam jumlah harta, jenjang pendidikan, asal-usul keturunan, dan kekuasaan membuat manusia dapat disusun secara bertingkat. Ada yang berada di atas, ada pula yang menempati posisi terbawah.
Berdasarkan sifatnya, stratifikasi sosial dapat dibagi menjadi 2:
a)      Stratifikasi Sosial Tertutup
Adalah stratifikasi sosial yang tidak memungkinkan terjadinya perpindahan posisi (mobilitas sosial). Dalam system ini cendrung membatasi kemungkinan pindahnya seseorang dari satu lapisan yang lain, baik merupakan gerak keatas atau kebawah. Didalam sistem demikian itu, satu- satunya jalan untuk masuk menjadi anggota dari ssuatu lapisan dalam masyarakat adalah karena kelahiran.
b)      Stratifikasi Sosial terbuka
Adalah stratifikasi yang mengizinkan adanya mobilitas, baik naik ataupun turun. Biasanya stratifikasi ini tumbuh pada masyarakat modern. Dalam system ini setiap anggota masyarakatnya lebih cendrung mempunyai kesempatan untuk berusaha dangan kecakapan sendiri untuk naek kelapisan. Pada umumnya lapisan ini memberikan rangsangan yang lebih besar kepada anggota masyarakat untuk dijadiakn sebagai landasan pembangunan dari pasa yang tertutup.
Disamping itu menurut para ahli Sosiologi system ini dapat dibagi menjadi enam lapisan kelas yaitu kelas atas atas ( upper-upper ), atas bawah ( lower upper ), menengah atas ( upper middle ), menengah bawah ( lower middle ), bawah atas ( upper lower ), dan bawah-bawah ( lower-lower).
Dalam hal ini dapat kita cari juga unsur-unsur yang terdapat dalam lapisan masyarakat tersebut. Dimana unsur-unsurnya itu adalah kedudukan ( status ) dan peranan ( role ) yang merupakan unsur-unsur baku dalam system berlapis-lapis. Hubungan antara kedudukan dan individu itu sangat penting karena langgengnya suatu masyarakat tergantung dari hubungan tersebut. Untuk lebih jelasnya adalah sebagai berikut :
  1. Kedudukan ( status )
Dalam kedudukan dapat dibagi menjadi dua pengertian yang pertama berdasarkan status dan yang kedua berdasarkan social,yang akan dijelaskan seperti dibawah ini
  • Ascribed status
Adalah kedudukan seseorang dalam masyarakat tanpa memperhatikan perbedaan-perbedaan rohaniah dan kemampuan, kedudukan tersebut diperoleh karena kelahiran, misalnya kedudukan anak seorang bangsawan adalah bangsawan pula. Pada umumnya ascribed status di jumpai pada masyarakat- masyarakat dengan sistem berlapis-lapisan yang tertutup.
  • Achived Status
Adalah kedudukan yang dcapai oleh seseorang dengan usaha-usaha yang disengaja. Kedudukan ini tidak diperoleh atas dasar kelahiran, akan tetapi bersifat terbuka bagi siapa tergantung dari kemampuannya masing-masing dalam mengejar serta mencapai tujuan-tujuanya.
2.      Peranan (Role)
Pembedaan antara kedudukan dari peranan adalah untuk kepentingan ilmu pengetahuan; keduanya tak dapat di pisah-pisahkan, oleh karena yang satu tergantung pada yang lain dan sebaliknya oleh karena yang satu tergantung pada yang lain dan sebaliknya juga demikian; tak ada peranan tanpa kedudukan atau kedudukan tanp peranan. Sebagaimana halnya dengan kedudukan, suatu peranan mencakup paling sedikit tiga hal, yaitu
  • peranan meliputi norma-norma yang dihubungkan dengan posisi atau tempat seseorang dalam masyarakat, peranan dalam arti ini merupakan rangkaian peraturan-peraturan yang membimbing seseorang dalam kehidupan kemasyrakatan.
  • Peranan adalah suatu konsep perihal apa yang dapat dilakukan oleh individu dalam masyarakat sebagai organisasi..
  • Peranan juga dapat di katakan sebagai perilaku individu yang penting bagi struktur sosial masyarakat
2. 2. 4. 1. Stratifikasi Sosial Campuran
Hal ini bisa terjadi bila stratifikasi sosial terbuka bertemu dengan stratifikasi sosial tertutup. Anggotanya kemudian menjadi anggota dua stratifikasi sekaligus. Ia harus menyesuaikan diri terhadap dua stratifikasi yang ia anut.
Menurut dasar ukurannya, stratifikasi sosial dibagi menjadi:
a. Dasar ekonomi
Berdasarkan status ekonomi yang dimilikinya, masyarakat dibagi menjadi:
1)      Golongan Atas
Termasuk golongan ini adalah orang-orang kaya, pengusaha, penguasan atau orang yang memiliki penghasilan besar.
2)      Golongan Menengah
Terdiri dari pegawai kantor, petani pemilik lahan dan pedagang.;
3)      Golongan Bawah
Terdiri dari buruh tani dan budak.
b. Dasar pendidikan
Orang yang berpendidikan rendah menempati posisi terendah, berturut-turut hingga orang yang memiliki pendidikan tinggi.
c. Dasar kekuasaan
Stratifikasi jenis ini berhubungan erat dengan wewenang atau kekuasaan yang dimiliki oleh seseorang. Semakin besar wewenang atau kekuasaan seseorang, semakin tinggi strata sosialnya. Penggolongan yang paling jelas tentang stratifikasi sosial berdasarkan kekuasaan terlihat dalam dunia politik.

Dampak adanya stratifikasi sosial:

1)      Dampak Positif

Orang yang berada pada lapisan terbawah akan termotivasi dan terpacu semangatnya untuk bisa meningkatkan kualitas dirinya, kemudian mengadakan mobilitas sosial ke tingkatan yang lebih tinggi.

2)      Dampak Negatif

Dapat menimbulkan kesenjangan sosial
2. 2. 4. 2.  Diferensiasi Sosial
Menurut Soerjono Soekanto, diferensiasi sosial adalah penggolongan masyarakat atas perbedaan-perbedaan tertentu yang biasanya sama atau sejajar. Jenis diferensiasi antara lain:

a. Diferensiasi ras
Ras adalah su8atu kelompok manusia dengan ciri-ciri fisik bawaan yang sama. Secara umum, manusia dapat dibagi menjadi 3 kelompok ras, yaitu Ras Mongoloid, Negroid, dan Kaukasoid. Orang Indonesia termasuk dalam ras Mongoloid.
b. Diferensiasi suku bangsa
Suku bangsa adalah kategori yang lebih kecil dari ras. Indonesia termasuk negara dengan aneka ragam suku bangsa yang tersebar dari Pulau Sumatera hingga papua.

c. Diferensiasi klen
Klen merupakan kesatuan keturunan, kepercayaan, dan tradisi. Dalam masyarakat Indonesia terdapat 2 bentuk klen utama, yaitu:
a)      Klen atas dasar garis keturunan ibu (matrilineal)

Contohnya yang terdapat pada masyarakat Minangkabau.

b)      Klen atas dasar garis keturunan ayah (patrilineal)
Contohnya yang terdapat pada masyarakat Batak.
d. Diferensiasi agama
Di Indonesia kita mengenal agama Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, Konghuchu, dan kepercayaan lainnya.
e. Diferensiasi profesi
Masyarakat biasanya dikelompokkan atas dasar jenis pekerjaannya.
f. Diferensiasi jenis kelamin
Berdasarkan jenis kelamin, masyarakat dibagi atas laki-laki dan perempuan yang memiliki derajat yang sama.

2. 3. Mobilitas Sosial
2. 3. 1. Pengertian mobilitas sosial
Gerakan Sosial ( Mobilitas Sosial ) adalah perubahan, pegeseran, peningkatkan ataupun penurunan status dan perana anggotanya. Misalnya seorang pensiunan pegawai rendah salah satu departemen berahli pekerjaan menjadi seorang pengusaha dan berhasil dengan gemilang, sehingga banyak sekali para ahli sosiologi yang mengemukakan pengertian dari mobilitas social yang dapat dijabarkan  sebagai berikut
1. Paul  B. Horton
Mobilitas Sosial adalah suatu gerakan perpindahan dari suatu kelas social kekelas social lainya atau gerakan pindah dari strata yang satu ke strata yang lainnya.
2. Kimball Young dan Raymond W. Mack
Mobilitas Sosial adalah suatu gerakan dalam struktur social yaitu pola-pola tetentu yang mengatur organisasi suatu kelompok social dimana struktur social mencakup sifat hubungan antara individu dalam kelompok dan hubungan anatara individu dengan kelompoknya.
Dalam kenyataannya mobilitas social sering terjadi pada masyarakat terbuka sehingga sangat memudahkan dalam berpindah sastra dibandingkan dengan masyarakat tertutup yang sangat sulit untuk berpindah sastra.
Disamping itu ada pula cara untuk melakukan mobilitas sosia yaitu dengan cara sebagai berikut :
  • Perubahan standar hidup
Dalam cara ini membahas tentang naiknya penghasilan tidak akan menaikan status melainkan mereflesikan suatu standat hidup yang lebih tinggi sehingga dapat mempengaruhi peningkatan status.
  • Perkawinan
Dalam cara ini membahas tentang meningkatkan status social yang lebih tinggi dengan melakukan suatu perkawinan.
  • Perubahan tempat tinggal
Dalam cara ini membahas tentang naiknya status social dengan berpindah tempat tinggal ketempat yang baru dan lebih layak atau  merekontruksi tempat tinggal menjadi lebih megah, indah dan mewah.
  • Perubahan tingkah laku
Dalam cara ini naiknya status social dengan menaikan dan mempraktekan bentuk-bentuk tingkah laku kelas yang lebih tinggi mau itu ucapan, pakaian, minat dan sebagainya.
  • Perubahan nama
Dalam cara ini naiknya status social dengan mengubah nama yang menunjukan posisi social yang lebih tinggi.
Dalam melakuakn semua cara-cara tersebut adakalanya seseorang sering mengalami suatu hambatan-hambatan diantaranya itu seperti perbedaan kelas rasial, agama, deskriminasi kelas, kemiskinan dan  perbedaan jenis kelamin. Dimana Mobilitas social itu sendiri di bagi oleh beberapa bentuk diantaranya adalah sebagai berikut :
  1. Mobilitas social vertical
Adalaha suatu perpindahan individu atau objek-objek social dari suatu kedudukan social lainnya yang tidak sederajat. Dimana mobilitas tersebut dapay dibagi menjadi dua bagian yaitu sebagai berikut
  • Mobilitas vertical ke atas ( social climbing )
Dalam mobilitas ini mempunyai bentuk-bentuk utama yaitu dalam bentuk masuk kedalam kedudukan yang lebih tinggi dan dalam bentuk kelompok baru.
  • Mobilitas vertiakl keatas ( Sosial sinking )
Dalam mobilitas ini mempunyai bentuk-bentuk utama yaitu dalam bentuk turunnya kedudukan dan dalam bentuk turunnya derajat kelompok..
  1. Mobilitas antargenerasi
Adalah mobilitas yang mempunyai dua generasi atau lebih, dimana dalam generasi ini ada ayah-ibu, anak dan cucu yang ditandai dengan perkembangan taraf hidup, baik naik atau turun dalam suatu generasi sampai pada perpindahan status social suatu generasi kegenerasi lain.
  1. Mobilitas intragenerasi
Adalah mobilitas yang terjadi di dalam satu kelompok generasi yang sama.
2. 3. 2. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Mobilitas Social
Faktor-faktor yang mempengaruhi mobilitas social adalah sebagai berikut :
  • Perubahan kondisi social
  • Ekspansi territorial dan gerak populasi
  • Komunikasi yang bebas
  • Pembagian kerja
  • Tingkat Fertilitas ( kelahiran ) yang berbeda
2. 3. 3. Saluran – Saluran Mobilitas Sosial
Saluran mobilitas ini dapat berupa angkat bersenjata yang merupak suatu organisasi yang digunakan untuk saluran mobilitas vertikal keatas melalui tahapan yang disebut kenaikan pangkat. Saluaran ini bukan hanya angkatan bersenjata saja tetapi ada juga saluran-saluran mobilitas yang lainnya yaitu adalah sebagai berikut :
  • Lembaga-lembaga keagamaan
  • Lembaga pendidikan
Merupakan saluran yang konkret dari mobilitas vertical keatas bahkan dianggap sebagai social elevator yang bergerak dari kedudukan rendah kedudukan yang tinggi
  • Organisasi politik.
  • Organisasi ekonomi
  • Organisasi keahlian
  • Perkawinan
2. 3. 4. Dampak Mobilitas Sosial
Dalam mobilitas social mengalami beberapa dampak – dampak, ada yang berdampak negative ada juga yang berdampak positif yang akan diterngkan dibawah ini :
  1. Dampak Negativ
  • Konflik antar kelas.
  • Konflik antar kelompok social
  • Konflik antar generasi
  • Penyesusaian kembali
  1. Dampak Positif
  • Orang-orang akan berusaha untuk berprestasi
  • Mempercepat tingkat perubahan sosial masyarakat

2. 4. Pranata sosial
Pranata sosial adalah sistem norma khusus yang menjadi wahana atau menata suatu rangakaian tindakan yang memungkinkan warga masyarakat untuk berinteraksi menurut pola-pola resmi.
2. 4. 1. Ciri umum pranata social
Gillin dan Gillin (dalam Soekanto, 1990) menguraikan ciri-ciri umum pranata/lembaga sosial sebagai berikut:
1. Suatu pranata/lembaga sosial adalah suatu organisasi dariada pola-pola pemikiran dan pola-pola perikelakuan yang terwujud melalui aktivitasaktivitas kemasyarakatan dan hasil-hasilnya.
2. Suatu tingkat kekekalan tertentu merupakan ciri dari semua pranata/lembaga sosial
3. Pranata/lembaga sosial mempunyai satu atau beberapa tujuan tertentu
4. Pranata/lembaga sosial mempunyai alat-alat perlengkapan yang dipergunakan untuk mencapai tujuan pranata/lembaga yang bersangkutan
5. Lambang-lambang biasanya juga merupakan ciri khas dari pranata/lembaga sosial
6. Suatu pranata/lembaga sosial mempunyai suatu tradisi yang tertulis dan yang tak tertulis yang dirumuskan tujuannya, tata tertib yang berlaku.

2. 4. 2. Tipe- tipe struktur social
1. Dari sudut perkembangan pranata sosial, meliputi (1) crescive institutions merupakan pranata yang secara tak disengaja tumbuh dari adat istiadat masyarakat.
2. Dari sudut sistem nilai-nilai yang diterima masyarakat, meliputi basic institutions yakni pranata sosial yang sangat penting untuk memelihara dan mempertahankan tata tertib dalam masyarakat
3. Dari sudut penerimaan masyarakat, meliputi approved atau social sanctioned institutions yakni pranata yang diterima masyarakat.
4. Dari sudut faktor penyebaran, meliputi general institutions yakni pranata yang dikenal hampir semua masyarakat di dunia.
5. Dari sudut fungsinya, meliputi operative institutions yakni pranata sosial yang berfungsi sebagai penghimpun pola-pola atau cara-cara yang diperlukan untuk mencapai tujuan pranata sosial yang bersangkutan.

2. 4. 3. Pengelompokkan pranata social
1. Kinship atau domestic institutions
2. Economic institutions
3. Educational institutions
4. Scientific institutions
5. Aesthetic and recreational institutions
6. Religious institutions
7. Political institutions
8. Somatic institutions
2. 4. 4. Proses pembentukkan pranata sosial
1. Proses sosialisasi
2. Proses institutonalization
3. Norma-norma yang internalized
2. 4. 5. Fungsi pranata sosial
Ø  Fungsi manifes merupakan tujuan pranata yang dikehendaki atau diakui, keluarga harus memelihara anak, pranata ekonomi harus menghasilkan dan mendistribusikan kebutuhan pokok dan mengarahkan arus modal ke tempat yang membutuhkan, sekolah harus mendidik siswa.
Ø  Fungsi laten merupakan hasil yang tidak dikehendaki dan tidak diakui atau jika diakui dianggap sebagai hasil sampingan, pranata ekonomi tidak hanya memproduksi dan mendistribusikan kebutuhan pokok, namun sering kali menimbulkan pengangguran dan perbedaan tajam akan kekayaan, pranata pendidikan tidak hanya mendidik siswa, melindungianak-anak orang kaya dari persaingan dengan anak-anak orang miskin, dan sebagainya.

 2. 5. Perubahan Sosial
2. 5. 1. Pengertian Perubahan Sosial
Perubahan social dikalangan masyarakat sudah tidak asing asing lagi karena perubahan yang manusia itu lakukan semata-mata hanya untuk mancapai suatu kemajuan atau malah mengalami kemunduran. Dimana perubahan tersebut didukung oleh unsur-unsur niali-nilai social, pola prilaku, organisasi social, lembaga-lembaga kemasyarakatan, startifikasi social, kekuasaan, tanggung jawab kepemimpinan dan sebagainya. Menurut para ahli perubahan social dibagi menjadi beberapa definisi diantaranya adalah sebagai berikut
  1. Selo Sumardjan
Perubahan Sosial adalah merupakn perubahan-perubahan lembaga-lembaga kemasyarakatan dalam susatu masyarakat yang mempengaruhi system sosialnya, termasuk nilai, sikap-sikap social, dan pola pelaku diantra kelompok-kelompok dalam masyarakat.
  1. Mac Iver
Perubahan social adalah perubahan-perubahan yang terjadi dalam hubungan ( social relation ) atau perubahan terhadap keseimbangan hubungan social.
  1. Gillin
Perubahan social adalah perubahan yang terjadi sebagai suatu variasi dari cara hidup yang telah diterima karena adanya perubahan kondisi geografis, kebudayaan material, komposis penduduk, ediologi, maupun adanya difisu atau penemuan-penemuan baru dalam masyarakakat.
  1. Kinsley David
Perubahan Sosial adalah merupakn perubahan-perubahan yang terjadi dalam struktur dan fungsi masyarakat.
  1. William F. Ogburn
Perubahan social adalah perubahan yang mencangkup unsure-unsur kebudayaan baik material maupun immaterial yang menekankan adanya pengaruh besar dari unsure-unsur kebudayaan material terhadap unsure-unsur immaterial.
Sehingga dapat disimpulkan perubahan social itu adalah perubahan yang berkenaan dengan kehidupan masyarakat yang termasuk perubahan system nilai dan norma social, system pelapisan social,struktur social..
  1. System Startifikasi Saat ini
Pada saat ini system startifikasi yang beredar dimasyarakat mengenai ketergantungan pada kemampuaanya sehingga masyarakat menekankan bahwa di setiap masyarakat itu berusaha untuk mengurangi ketidaksamaan antar masyarakat lain dengan jalan membatasi perbedaan antar individu.
2. 5. 2. Faktor- factor yang mempengaruhi perubahan social
(1) tekanan kerja dalam masyarakat
(2) keefektifan komunikasi
(3) perubahan lingkungan alam.


BAB III
PENUTUP
3. 1. Kesimpulan
Struktur sosial merupakan susunan sosial yang membentuk kelompok-kelompok sosial dalam masyarakat. Jadi, Struktur sosial itu merupakan suatu susunan dalam masyarakat berdasarkan pola fikir masyarakatnya masing – masing. Orang – orang yang memiliki kesamaan pola fikir itu akan membentuk suatu kelompok dimana hanya orang – orang yang memiliki pola fikir yang sama.
3. 2. Kritik dan Saran
            Waktu pengerjaan tugas IPS kurang lama. Menurut kami seharusnya penugasan IPS ini diberi waktu lama agar hasilnya pun maksimal.


DAFTAR PUSTAKA













Tidak ada komentar:

Poskan Komentar